///Target Ambisius Kinerja Perekonomian Semester II

Target Ambisius Kinerja Perekonomian Semester II

Perekonomian Indonesia telah melewati paruh pertama tahun ini dengan rata-rata kinerja di bawah target yang dipatok dalam Undang- Undang APBN 2018. Merujuk pada laporan kinerja APBN semester I-2018 yang dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) di hadapan Badan Anggaran DPR pertengahan Juli lalu, pertumbuhan ekonomi hanya dapat menembus 5,1 persen, meleset dari asumsi dasar makroekonomi sebesar 5,4 persen.

Demikian pula dengan nilai tu-kar rupiah. APBN 2018 mematok kurs sebesar Rp13.400/US$, namun sepanjang semester I, mata uang Garuda justru melemah rata-rata sebesar Rp13.746/US$. Setali tiga uang, harga minyak dunia yang diasumsikan US$48/barel, realisasinya malah me-nembus US$67/barel. Dari pelbagai indikator kinerja makroekonomi, ha-nya inflasi yang relatif terjaga, yakni terealisasi sebesar 3,1 persen, lebih rendah dari target 3,5 persen dalam APBN 2018.

Usai menyampaikan kinerja APBN semester I, Menkeu SMI juga memaparkan proyeksi performa ekonomi di semester II. Pertumbuhan ekonomi ditaksir menguat 5,3 persen, sehingga secara agregat pada akhir tahun diperkirakan bakal mencapai 5,2 persen. Kurs rupiah diproyeksikan melemah di kisaran Rp14.200/US$ dengan target rata-rata Rp13.973 sepanjang 2018. Sementara target lifting minyak dan gas masing-masing diturunkan menjadi 792 ribu barel per hari (bph) dan 1,08 juta bph setara minyak dengan proyeksi rata-rata harga minyak dunia naik menjadi US$73/barel. Adapun inflasi di semester II dan hingga penutup tahun diharapkan tetap terjaga di angka 3,5 persen.

Sejumlah ekonom dan lembaga riset, khususnya dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, proyeksi pemerintah atas indikator makroekonomi terlalu ambisius. Pasalnya, perekonomian Indonesia di paruh kedua tahun ini masih akan mendapat tekanan dari faktor eksternal maupun domestik.

Dari faktor eksternal, tekanan dari ketidakpastian perekonomian global, termasuk dari sentimen kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan kecamuk perang dagang antara AS-Tiongkok-Eropa bakal mengoreksi kinerja investasi dan ekspor. Sementara dari faktor domestik, konsumsi rumah tangga masih dibayang-bayangi pelemahan. Begitu pun terdapat potensi pengetatan belanja pemerintah, khususnya terkait rencana penundaan sejumlah proyek infrastruktur untuk mengerem laju impor barang modal demi membendung tren pelemahan rupiah yang dianggap telah menembus batas psikologis pelaku ekonomi.

By | 2018-10-05T14:22:16+00:00 October 5th, 2018|Nasional, The Updates|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment