Pertentangan Sunni dan Syiah terus menjadi akar persoalan yang menciptakan instabilitas tak berkesudahan di Timur Tengah. Krisis keamanan dan konflik internal Yaman saat ini disinyalir tak lepas dari fenomena perang proxy antara kekuatan Syiah yang didukung Iran dan Sunni yang didukung Saudi Arabia.

Ketika Abd Rabbu Mansour Hadi naik posisi menjadi presiden, Yaman dihadapkan pada persoalan instabilitas keamanan yang diciptakan oleh Al-Qaeda, gerakan separatis di selatan, praktik korupsi yang merajalela, hingga tingginya kemiskinan yang ditandai oleh terbatasnya sumber pangan nasional.

Di tengah situasi tersebut, gerakan politik Houthi terus menguat dengan adanya dukungan Iran, pengambilalihan Ibu Kota Yaman, serta menguatnya kekuatan politik yang menuntut mundurnya Presiden Hadi.

Sejak Maret 2015, koalisi negara-negara Teluk yang terdiri atas Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, dan Senegal menyatukan kekuatan politik untuk mengerahkan kekuatan militer dan mengisolasi ekonomi guna menetralisir gerakan Houthi di Yaman. Sedangkan Amerika Serikat, sekutu lama Saudi Arabia, bersama Inggris dan Perancis memasok senjata dan informasi intelejen untuk menghadapi kekuatan Houthi.

Besarnya intervensi kekuatan global dan regional ke dalam konflik internal Yaman membuat persoalan ini tak berkesudahan. Akibatnya, masyarakat sipil tak berdosa menjadi target pembantaian massal akibat agresi militer, kelaparan akibat kekurangan pangan dan wabah penyakit yang terus menjangkiti masyarakat luas. PBB (2018) mencatat selama tiga tahun terakhir, terdapat 6.660 warga sipil tewas, 10.560 terluka akibat perang, 1.1 juta orang terkena wabah kolera, 30 persen balita terkena gizi buruk, dan 22 juta warga lainnya terancam kelaparan dan darurat pangan.

Menjelang akhir 2018 lalu, Senator Amerika Serikat Vermont Bernie Sanders meminta pemerintah AS untuk menghentikan bantuan militer kepada Arab Saudi yang digunakan untuk mensuplai konflik Yaman. Resolusi tersebut lolos dengan tindak lanjut penghentian suplai bantuan. Ke depan, langkah kemanusiaan perlu diintensifkan guna menekan dampak fatal agresi militer di Yaman. Dalam konteks ini, peran organisasi dan negara-negara Islam diharapkan bisa menghadirkan solusi permanen bagi hadirnya perdamaian dan stabilitas keamanan di Yaman. (aku)