Seperti jalan yang tak ada ujungnya, hubungan rollercoaster antara Amerika Serikat dan Tiongkok selalu penuh kejutan. Sebelumnya, Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu bersitegang setelah terlibat dalam perang dagang, meskipun kemudian sepakat untuk berhenti saling menaikkan tarif impor pasca pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping di KTT G-20 di Argentina pada Desember 2018 lalu. Baru-baru ini hubungan keduanya memasuki babak baru dan berpotensi kembali memanas setelah kepala keuangan sekaligus putri pendiri raksasa perusahaan jaringan telekomunikasi asal Tiongkok, Huawei, Meng Wangzhou, ditangkap di Kanada.

Atas permintaan AS, Meng Wangzhou ditangkap di Kanada pada 1 Desember 2018. Belum ada keterangan pasti dibalik penangkapan Meng. Akan tetapi terdapat dugaan bahwa Meng telah melakukan skema sistem perbankan dan berpotensi melanggar sanksi AS terhadap Iran. Hal ini mengakibatkan pelemahan tajam pasar saham di Tiongkok dan Hong Kong di bulan Desember 2018, Indeks Shanghai Composite merosot 1,68 persen atau 44,62 poin di level 2.605,18, setelah dibuka dengan pelemahan 0,75 persen atau 19,98 poin di posisi 2.629,82.

AS sendiri telah menginvestigasi Huawei apakah perusahaan tersebut melanggar sanksi ekspor AS terhadap Iran. Hingga saat ini, Meng masih menjadi tahanan rumah di Kanada dengan penjagaan ketat. Beberapa negara bahkan telah melarang penggunaan perangkat teknologi di negara mereka.

Atas kejadian ini, Huawei merespon bahwa mereka telah mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku dimana saja, termasuk pengawasan ekspor dan hukum serta peraturan sanksi yang berlaku dari PBB, AS, dan UE. Atas tindakan penangkapan Meng, Huawei percaya sistem hukum baik Kanada dan AS hanya akan berujung pada kesimpulan. KBRI Tiongkok di Kanada juga telah memprotes penangkapan tersebut dan menuntut pembebasan Meng.

Penangkapan Meng yang terjadi di waktu sensitif dalam hubungan AS-Tiongkok dapat memperburuk relasi keduanya. Kejadian ini bisa saja merusak gencatan senjata perang dagang yang baru saja disepakati kedua negara, 90 hari sejak disepakatinya pengangkatan tarif ekspor. Diharapkan hal ini tidak menambah ketegangan hubungan antara AS dan Tiongkok yang tinggi dan rentan konflik. (bcr)