Amerika Serikat dan Korea Utara sudah lama dikenal sebagai dua seteru abadi. Kedua negara kerap bersitegang secara verbal, saling hujat, bah­kan jual-beli ancam senjata nuklir. Namun kisah dua seteru itu kini berbalik arah. AS mulai melunak. Begitu pula Korut-negara dengan nama resmi DPRK.

Tepat 12 Juni lalu, Presiden AS Donald John Trump dan pemimpin Korut Kim Jong Un berjumpa di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura. Keduanya berjabat tangan selama 10 detik. Diskusi empat mata dalam 38 menit. Duduk satu meja, saling lempar senyum, layaknya kawan lama. Mata dunia pun terbelalak menyaksikan mega peristiwa yang tak pernah terjadi sebelumnya. Inilah pertemuan bersejarah yang menandai babak baru relasi dua negara.

Secara resmi, Washington dan Pyongyang telah sepakat untuk melakukan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Trump dan Kim sudah menanda-tangani empat butir kesepakatan yang antara lain memuat jaminan keamanan AS untuk Korut dan komitmen negara ini untuk melucuti senjata nuklirnya. “Ini sangat luar biasa,” kata Trump saat konferensi pers, sebagaimana dilansir kantor berita Korea Selatan, News1.

Senapas dengan kesepakatan itu, Presiden Trump mengaku bersedia me-nyudahi latihan militer bersama Korea Selatan yang oleh Korea Utara, dianggap sebagai aksi provokasi serius. Gedung Putih juga menjanjikan imbalan pembatalan sanksi sekaligus bantuan ekonomi kepada Korut. Tekanan ekonomi memang dipercaya sebagai sebab melunaknya sikap keras Kim yang oleh Trump dijuluki ‘manusia roket’.

Kendati telah membubuhkan tanda tangan dalam dokumen perjanjian, para analis meyakini, pemusnahan senjata nuklir Korut tidak akan pernah mudah, apalagi berlangsung gesit. Dikutip dari New York Times, ilmuan nuklir, Siegfried Hecker, mengungkapkan, setidaknya butuh waktu hingga 15 tahun ke depan untuk implementasi denuklirisasi. Itu pun, lanjut Hecker, tergantung dari kerumitan perundingan lanjutan serta bagaimana strategi kedua negara dalam membangun kepercayaan.

Para analis juga percaya, konferensi bersejarah AS-Korut di Singapura me-rupakan langkah awal. Usai pertemuan Singapura, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan pejabat Korut urusan luar negeri Kim Yong Chol bertugas untuk memastikan perundingan lanjutan yang tak sederhana. Pertemuan kedua Trump-Kim, menurut Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, kemungkinan berlangsung di New York sekitar bulan September 2018.